Pertanyaan: Akhlak yang diajarkan agama Islam dalam memahami qada dan qadar adalah …
A. Setiap keburukan kesalahan manusia dan kebaikan adalah anugerah-Nya.
B. Berbuat baiklah, sebagaimana kamu ingin diperlakukan dengan baik.
C. Keteladanan merupakan kunci keberhasilan pergaulan sesama.
D. Sibukkanlah mencari kekurangan yang ada dalam diri.
Jawaban yang benar adalah A. Setiap keburukan kesalahan manusia dan kebaikan adalah anugerah-Nya. Pilihan ini paling tepat karena langsung berkaitan dengan sikap seorang muslim terhadap takdir Allah — meyakini bahwa kebaikan merupakan karunia dari-Nya, sementara keburukan terjadi karena kesalahan manusia sendiri. Prinsip ini merupakan inti akhlak dalam beriman kepada qada dan qadar.

Mengapa Jawaban A yang Paling Tepat?
Konsep qada dan qadar dalam Islam merujuk pada ketetapan dan ketentuan Allah atas segala sesuatu yang terjadi di alam semesta. Qada adalah keputusan Allah yang bersifat azali (sejak dahulu kala), sedangkan qadar adalah perwujudan keputusan itu dalam kehidupan nyata. Beriman kepada qada dan qadar merupakan rukun iman keenam — pilar terakhir yang melengkapi keimanan seorang muslim.
Akhlak yang diajarkan Islam ketika memahami konsep ini berpijak pada prinsip dalam Al-Qur’an, khususnya surah An-Nisa ayat 79, yang menegaskan bahwa kebaikan yang menimpa manusia berasal dari Allah, sedangkan keburukan berasal dari diri sendiri. Artinya, seorang muslim diajarkan untuk bersyukur atas segala nikmat karena itu adalah anugerah Allah, dan pada saat yang sama melakukan introspeksi ketika menghadapi musibah karena bisa jadi itu akibat kelalaian atau kesalahan sendiri.
Sikap ini membentuk keseimbangan hidup: tidak sombong saat mendapat kebaikan, dan tidak menyalahkan takdir saat mengalami kesulitan. Inilah inti dari pilihan A — menghubungkan langsung antara kebaikan sebagai karunia Tuhan dan keburukan sebagai tanggung jawab manusia.
Mengapa Pilihan Lain Kurang Tepat?
Pilihan B — “Berbuat baiklah, sebagaimana kamu ingin diperlakukan dengan baik” — memang merupakan prinsip mulia dalam Islam dan dikenal luas sebagai golden rule dalam berbagai tradisi moral. Namun prinsip ini berkaitan dengan akhlak dalam muamalah (hubungan antarmanusia), bukan secara khusus dengan pemahaman terhadap qada dan qadar. Ini adalah pilihan yang paling sering membuat siswa keliru karena kalimatnya terdengar sangat Islami dan benar secara umum, tetapi tidak menjawab konteks pertanyaan.
Pilihan C — “Keteladanan merupakan kunci keberhasilan pergaulan sesama” — berbicara tentang uswatun hasanah atau teladan yang baik dalam pergaulan sosial. Topik ini masuk ranah akhlak bermasyarakat, bukan akhlak dalam menyikapi takdir Allah. Tidak ada keterkaitan langsung dengan konsep qada dan qadar.
Pilihan D — “Sibukkanlah mencari kekurangan yang ada dalam diri” — sekilas terdengar seperti ajakan introspeksi yang positif. Akan tetapi, Islam tidak mengajarkan seseorang untuk terus-menerus sibuk mencari kekurangan diri hingga menjadi pesimis. Ajaran Islam justru mendorong keseimbangan: muhasabah (evaluasi diri) tanpa berlebihan, disertai husnudzan (berprasangka baik) kepada Allah. Pilihan ini juga tidak berkaitan langsung dengan qada dan qadar.
Hubungan Qada-Qadar dengan Ikhtiar dan Tawakal
Memahami qada dan qadar tidak berarti pasrah total tanpa usaha. Islam mengajarkan tiga sikap yang saling melengkapi. Pertama, ikhtiar — berusaha sekuat tenaga untuk meraih kebaikan dan menghindari keburukan. Kedua, tawakal — menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah berusaha maksimal. Ketiga, ridha — menerima dengan lapang dada apa pun ketetapan Allah yang datang setelah ikhtiar dilakukan.
Ketiga sikap ini membentuk akhlak seorang mukmin yang seimbang. Ia tidak malas dengan alasan “sudah ditakdirkan”, tetapi juga tidak stres berlebihan karena merasa harus mengendalikan segalanya. Konsep inilah yang membedakan fatalism (kepasrahan buta) dengan tawakul dalam Islam — dua hal yang sering dicampuradukkan dalam soal ujian.
Tips Mengenali Soal Tentang Qada dan Qadar
Saat menemui soal yang menanyakan akhlak terkait qada dan qadar, cari pilihan jawaban yang memenuhi dua unsur sekaligus: pengakuan bahwa kebaikan berasal dari Allah, dan kesadaran bahwa keburukan berkaitan dengan kesalahan manusia. Jika hanya memuat satu unsur — misalnya hanya tentang berbuat baik atau hanya tentang introspeksi — kemungkinan besar pilihan itu bukan jawaban yang paling tepat.
Cara mudah mengingat: Qada-qadar = hubungan vertikal manusia dengan Allah, bukan hubungan horizontal antarmanusia. Maka jawaban yang benar selalu mengarah pada sikap terhadap ketetapan Tuhan (syukur atas nikmat, sabar atas musibah, introspeksi atas kesalahan), bukan sekadar etika sosial.
